Jumat, 24 Agustus 2012

MIMPI ITU CINTA


Cinta, apa itu cinta?
Aku seorang mahasiswa ekonomi yang mencoba mengerti apa arti cinta, dan pikirku itu hal yang wajar karena aku bukanlah mahasiswa sastra ataupun psikologi, namun rasa penasaranku yang terlalu besar memaksaku mencari jawaban yang tidak akan muncul dalam lembar soal uts maupun uas di fakultasku.

Dan saat aku bertanya kepada buku-buku yang berserakan dikamarku, “apa itu cinta?” dan dengan lugas mereka menjawab “PROFIT”. Seakan mendengar sebuah lelucon akupun tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban dari kumpulan kertas itu, tapi jawaban mereka jujur dan aku terdiam apakah cinta ini yang aku cari??? Kurang puas dengan jawabannya aku kembali bertanya sembari melanjutkan tawa “tidak ada yang lain?” dengan suara lirih selembar kertas menjawab “UANG” itu yang akan membuat kamu bahagia, sontak tawaku terhenti dan berkata anj*ng! apakah benda itu yang membuat bahagia semua orang dan membuat berjuta-juta orang menganggap itu adalah sebuah “CINTA”.

Tidak mengenal menyerah aku lanjutkan perjuanganku mencari arti kata ini, aku keluar kamar dan melihat burung-burung dalam sangkar yang indah dan berkicau dengan merdunya. Tanpa ragu aku lontarkan pertanyaanku,”apa itu cinta?” sontak kicauan indah itu berubah menjadi sebuah desah  dan dengan suara kasar dan penuh amarah burung itu mengucapkan kata “BEBAS”, dan matanya pun terbayangkankan langit biru nan cerah. Kemudian aku bertanya untuk keduakalinya,”apa maksudnya? Bukankah kalian hidup senang disini? Sangkar nan indah, makanan berlimpah, suasana hangat jauh dari hujan dan badai!” tanpa kata burung itu menjawab lewat tetesan air matanya ”dan kami akan mati disini, bukan di antara para pemangsa, bukan diterkaman hujan dan badai, dan juga bukan dipelukan rumah(sarang) yang aku bangun sendiri”.

Dengan perasaan iba aku beranjak pergi mencoba berlari namun bayangan ini terlalu dalam tertambat dalam lantai. Sesampainya di ruang tamu aku melihat ikanikan koki yang berenang kesana-kemari, dan pikirku cinta mereka pasti sama dengan burung dalam sangkar, tapi tanpa aku tanya salah satu dari mereka menjawab dengan suara imut seperti Apika dalam iklan Oleo “kami cita dengan “AQUARIUM” ini dan kami cinta dengan tangan-tangan yang memberi makan kemudian membelai tubuh dan ekor kami”. Kaget bukan kepalang, mengapa ikan ini berbeda dengan burung tadi? Apa yang salah? Dan akupun berkata “mengapa berbeda debgan burung itu?”, sembari bermain air ikan itu berkata “nenek moyang kami diciptakan untuk ini, kami dikloning untuk menjadi ikan hias dan jika kami hidup di alam bebas kami akan mati karena kami tidak diciptakan dengan insting mencari makan sendiri dan juga kami tidak memiliki senjata untuk menyapa para predator”. Speachlees, narus berkata apalagi??? Dalam benakku apakah kehidupan sebegitu kejamnya? Apakah besok kita juga harus seperti ikan-ikan itu? Dibahagiakan oleh kesenangan semu? Bahagia karena itu turun-temurun? Mungkin sebentar lagi manusia akan seperti ikan-ikan kecil itu.

Bergegas aku buka pintu dan menghirup udara luar rumah yang campur-baur, suara alampun bagai orchestra yang berdengung ketelingaku masing-masing suara memegang tempo, ritme serta warnanya sendiri-sendiri. Langkah demi langkah aku beranikan untuk menatap sang mentari, cahaya yang merambat disekujur tubuhku tidak hanya menerangi wajahku tetapi juga menghangatkan aliran darahku yang sempat membeku. Setelah cukup panas akupun berteriak kepada matahari,”wahai matahari apa arti cinta bagimu? Apakah api? Apakah planet dan bintang yang mengelilingimu? Apakah ruang hampa yang menyelimutimu?” dan dengan suara lantang bak seorang perwira dia menyela omonganku “stop! Jangan kau teruskan ocehan sok tau itu anak muda, kau ini sama saja dengan manusia-manusia lainnya, sok tahu! Kalian temukan sebuah rumus, kalian kembangkan, kalian terapkan, tapi kalian lupa bahwa satu rumus dan rumus lainnya saling berhubungan dan itu yang membuat temanku Bumi menjadi lebih cantik dengan make up yang kalian berikan, tapi apakah kau tahu make up itu cuma indah dipermukaan? Bumi temanku sedang sekarat karena keteraturan didalamnya benar-benar terkoyak karena nafsu dan pikiran yang ada dalam diri manusia!” dengan amarah aku menjawab “aku bukan orang seperti itu, jadi jangan samakan aku dengan yang lainnya!” seketika keadaan menjadi senyap, lirih terdengar tawa dari matahari seakan mengejek omonganku dan raut muka bijaksana muncul diwajah matahari sembari mengucapkan “lantas apa tujuan kamu menuntut ilmu? Apakah ilmu yang kamu pelajari berdasarkan kearifan lokal yang nenek moyang kalian ciptakan? Ilmu yang kamu pelajari itu berasal dari sebuah negeri huru-hara, negeri yang mengembangkan rumus demi kejayaan mereka” dan kalimat tambahan yang sangat menampar pikiranku “negerimu kembali terjajah dengan mengikuti budaya mereka”. Dengan tertunduk aku berbalik dan membelakangi matahari, sedikit langkah kecil kemudian langkah besar untuk lari dari senyuman metahari. Namun lewat cahayanya yang lembut matahari berbisik aku dan alam yang bergandengan denganku menganggap cinta adalah sebuah “KETERATURAN”.

Lelah berlari dan aku tak mampu bersembunyi dari matahari dan bala pasukan cahanya yang ada dimana-mana bahkan saat malampun cahayanya yang mengendarai bulan tetap mangikutiku. Dengan pelukan lelah aku tertidur, tidur, tidur dan akhirnya sebuah tangan yang lembut memelukku dan mengusir semua rasa dingin, lelah, takut dan gelisahku. Perlahan demi perlahan aku terbuai dalam rasa damai yang dia berikan padaku, dan saat aku menatapnya banyak pertanyaan yang keluar dari mulutku, Apakah aku sudah mati? Apakah kamu bidadari untukku? Apakah ini surga untukku? Dan pertanyaan yang sebenarnya apakah aku bisa masuk surga????? Perlahan aku mengerti bahwa aku belum mati dan hanya terbuai dalam pelukan mimpi, tapi betapa indahnya mimpi ini, aku bersama seorang wanita yang sangat mengerti aku, baik padaku, sangat menyayangiku. Berbagai suasana kita lewati bersama indahnya musim semi, cerianya musim panas, hangatnya musim gugur, dan bersahabatnya musim dingin tidak hanya itu badai ditengah lautanpun terasa manis saat bersama dengannya. Semua suasana yang aku leawati bersamanya terasa menyenangkan dan inilah yang memaksaku bertanya “mengapa setiap bersamamu aku merasa bahagia?” senyum simpul yang menghiasai wajagnya memberi jawaban yang tersirat “kamu merasa bahagia saat bersamaku? Tentu saja kamu bahagia, karena aku tercipta dari tulang rusukmu” pikiranku benar-benar melayang saat dia mengatakannya seakan aku terbuai mimpi dalam mimpiku. Tiba-tiba “DUG!”, jantungku berhenti berdetak, darah-darahku membeku, nafasku tersumbat dan aku tak lagi dapat merasakan harumnya aroma tubuhmu sebelum aku bertanya tentang apakah yang dia maknai sebagai cinta, apakah itu aku? Apakah semua perkataannya itu berarti akulah “cinta” dalam benakknya apakah semua rasa bahagia yang aku rasakan adalah rasa cinta yang dia berikan kepadaku? Dan di detik itu juga aku yakin cinta dalam diriku adalah kamu, namun sudah tidak ada waktu lagi mulutku tidak mampu mengucapkan kata itu padanya, tanganku juga tak mampu membentuk tanda cinta untuknya….. matakupun terpajam dan tak mampu memandangnya lagi aku hanya bisa berkata dalam batinku “inilah cintaku”


Tapi……

Sepasang tangan yang hangat menyentuh kedua pipiku, dan berkata “sudah sadar pangeran pemalasku?” Dan akupun membuka mata denga beratnya, tak ada kata yang terucap hanya wajah yang bingung dan tak berdaya penuh tanya, sebuah kata keluar dari mulutnya “bingung?” sebuah anggukan kepala dariku menggantikan sebuah kata yang bermakan YA, seakan obrolan yang sangat akrab terjadi diantara kita, kini sebuah kalimat keluar dari mulutnya berbarengan dengan senyum yang manis “kamu sudah mati!” sontak kata itu mengagetkaku dan hampir membuat jantungku berhenti, tunggu sebentar aku mulai bisa berpekir kembali “jika aku mati maka jantungku tak mungkin berhenti berdetak untuk kesekian kalinya” lagi-lagi sepertinya dia mampu membaca pikiranku dan menjawabnya sembari memelukku “ tentu saja jika jantungmu masih berdetak, berarti kamu masih hidup” dan pelukan hangatnya seakan memberi sebuah kekuatan untukku. Lanjut sebuah kata yang dia bisikan di telingaku “sayangku, sudah 3hari kamu pingsan”, seiring kata “sayangku” yang aku dengar matakupun semakin jernih dan mampu melihat siapa sebenarnya yg ada didepanku dan saat dia menatapku dengan mata yang berair dan sepertinya sangat bahagia melihatku membuka mata kembali. Tanpa pikir panjang aku kerahkan semua tenagaku untuk mengucapkan sebuah kalimat kamulah “MIMPIKU”.


Ocehan ini hanya fiksi belaka tapi tidak semuanya fiksi, semua adegan dibuat hanya untuk mendramatisir bahwa “dalam mimpiku kamulah yang selalu aku cinta dan kuinginkan untuk menemani menghabiskan waktu waktuku, dan didalam dunia nyata kamu adalah mimpiku <3 ”

Sabtu, 18 Agustus 2012

Demokrasi Milik Siapa?

Demokrasi adalah sebuah kata yang sangat familiar terdengar di telinga rakyat negeri merah putih, tepatnya setelah para cendikiawan muda berhasil memanjat 'Istana Hijau' ditengah kota metropolitan yang sekarang telah menjadi kota megapolitan yang sakit-sakitan. Kata demokrasi pun semakin menjadi raja dari semua raja karena dalam kelahirannya harus merelakan beberapa nyawa cendikiawan muda sebagai tumbal sembari meneriakan mantra 'REFORMASI'.

Sebuah kata yang diyakini akan membawa perubahan bagi semua rakyat negeri merah putih dan akan membawa sang garuda(maskot negeri merah putih) kembali terbang tinggi menumbusa cakrawala dan menantang angkuhnya 'Sang Surya' dan mencoba merontokkan '50 bintang dari 13 garis merah putih' yang kokoh menopangnya. Namun itu hanya wacana, sekali lagi wacana dan hanya menjadi wacana sampai ada 'sesaji' baru untuk perubahan tanpa logika yang akan segera tersulut karena bom waktu telah berdetak.

Namun tidak semua Demokrasi di negeri merah putih ini ambyar, ada juga yang berjalan 'mulus' yah semulus jalanan di negeri ini 'selalu ada lubang dan batu kerikil' yang artinya selalu saja ada tangan-tangan liar tak bertuan yang mengambil keuntungan di celah-celah rasa percaya masyarakatnya. Sebagai contoh demokrasi yang berjalan adalah PEMILU negeri ini yang berazaskan LUBER(Langsung Umum BEbas dan Rahasia) JURDIL(JUjur dan aDIL) dan kita akan melaksanakan dalam 5 tahun sekali. Sebagai warga negara yang baik kita bebas memilih siapa yang dianggap pantas memimpin kita dan jika dirasa tidak ada yang pantas maka golput(golongan putih) menjadi salah satu senjata andalan. Ya memang sah-sah saja seseorang memilih golput, inikan negeri Demokrasi semua orang berhak dan bebas melakukan yang mereka anggap baik asalkan bertanggung jawab. Akan tetapi apakah pemilu kita berjalan sesuai semboyannya??? jawabnya belum sampai masyarakat negeri ini benar-benar sadar akan arti TANGGUNG JAWAB :D

Demokrasi di negeri merah putih ini juga dapat kita lihat dalam  kebebasan memeluk agama, negeri ini memang terkenal dengan toleransi yang tinggi antar umat beragama islam, kristen protestan, katholik, hindu, budha, kong hu cu, keenam agama ini campur aduk membaur jadi satu dalam balutan kain merah dan putih bak negeri dengan 6 menara berbeda. Tentunya tidak di semua kalangan kita dapat menemukan keindahan kebersamaan tersebut dan mungkin saya juga hanya akan merasakan indahnya kebersamaan tersebut samapai dipenghujung usia remaja saya, karena ketika seseorang menginjak usia dewasa, maka semakin banyak keinginan dan semakin tegas ideologi kita(untuk meyakini ataupun menolak sesuatu). Contoh saat masa-masa kita masih berseragam atasan putih dan berhiaskan badge identitas sekolah kita selalu berteman dan berbagi dengan siapa saja entah itu beragama putih, merah, biru, bahkan hitam yang penting solidaritas nomer satu hahaha *jadi keinget masa-masa berseragam* tapi ketika sudah berinteraksi dengan masyarakat umum barulah terlihat ada tembok pemisah diantara masing-masing kepercayaan yang dibuat oleh para orang-orang yang ilmu agamanya DANGKAL yang hanya bermodalkan kata Tuhan dan emosi yang meledak-ledak bak gunung api yang bergemuruh kemudian DUAAAAR!!! meluluhlantahkan semua yang ada di sekitarnya termasuk dirinya sendiri.

Jadi pada intinya belum ada demokrasi di negeri merah putih ini karena yang terjadi adalah demokrasi karena paksaan minoritas atau kemauan sebagian besar masyarakat, bukan dari kebenaran walaupun itu dari minoritas. Mengapa seperti itu? karena pada hakikatnya demokrasi itu adalah dimana semua orang bebas bersuara dan mengatakan sebuah kebenaran, selain itu demokrasi adalah dimana kita dapat menerima kebenaran itu meskipun itu berasal dari minoritas. Apakah anda sudah siap menerima perubahan karena demokrasi? meskipun anda akan terlempar dari comfort zone? meskipun anda akan menjadi powerless? meskipun anda tidak akan eksis lagi? semua pastilah tergantung mainstream di negeri ini *lagi-lagi mayoritas :-D *

Sebagai ocehan terakhir tulisan ini saya dedikasikan kepada para kaum minoritas dimanapun berada terutama  di Indonesia yang masih tertindas oleh mayoritas dan semoga kepedulian kita terhadap kaum minoritas akan tumbuh dan berawal dari negeri kita sendiri bukan dari kasus negeri tetangga my*nm*r.