Cinta, apa itu cinta?
Aku seorang mahasiswa ekonomi yang
mencoba mengerti apa arti cinta, dan pikirku itu hal yang wajar karena aku
bukanlah mahasiswa sastra ataupun psikologi, namun rasa penasaranku yang
terlalu besar memaksaku mencari jawaban yang tidak akan muncul dalam lembar
soal uts maupun uas di fakultasku.
Dan saat aku bertanya kepada
buku-buku yang berserakan dikamarku, “apa itu cinta?” dan dengan lugas mereka
menjawab “PROFIT”. Seakan mendengar sebuah lelucon akupun tertawa
terbahak-bahak mendengar jawaban dari kumpulan kertas itu, tapi jawaban mereka
jujur dan aku terdiam apakah cinta ini yang aku cari??? Kurang puas dengan
jawabannya aku kembali bertanya sembari melanjutkan tawa “tidak ada yang lain?”
dengan suara lirih selembar kertas menjawab “UANG” itu yang akan membuat kamu
bahagia, sontak tawaku terhenti dan berkata anj*ng! apakah benda itu yang
membuat bahagia semua orang dan membuat berjuta-juta orang menganggap itu
adalah sebuah “CINTA”.
Tidak mengenal menyerah aku
lanjutkan perjuanganku mencari arti kata ini, aku keluar kamar dan melihat
burung-burung dalam sangkar yang indah dan berkicau dengan merdunya. Tanpa ragu
aku lontarkan pertanyaanku,”apa itu cinta?” sontak kicauan indah itu berubah
menjadi sebuah desah dan dengan suara
kasar dan penuh amarah burung itu mengucapkan kata “BEBAS”, dan matanya pun terbayangkankan
langit biru nan cerah. Kemudian aku bertanya untuk keduakalinya,”apa maksudnya?
Bukankah kalian hidup senang disini? Sangkar nan indah, makanan berlimpah,
suasana hangat jauh dari hujan dan badai!” tanpa kata burung itu menjawab lewat
tetesan air matanya ”dan kami akan mati disini, bukan di antara para pemangsa,
bukan diterkaman hujan dan badai, dan juga bukan dipelukan rumah(sarang) yang
aku bangun sendiri”.
Dengan perasaan iba aku beranjak
pergi mencoba berlari namun bayangan ini terlalu dalam tertambat dalam lantai. Sesampainya
di ruang tamu aku melihat ikanikan koki yang berenang kesana-kemari, dan
pikirku cinta mereka pasti sama dengan burung dalam sangkar, tapi tanpa aku tanya
salah satu dari mereka menjawab dengan suara imut seperti Apika dalam iklan Oleo
“kami cita dengan “AQUARIUM” ini dan kami cinta dengan tangan-tangan yang
memberi makan kemudian membelai tubuh dan ekor kami”. Kaget bukan kepalang,
mengapa ikan ini berbeda dengan burung tadi? Apa yang salah? Dan akupun berkata
“mengapa berbeda debgan burung itu?”, sembari bermain air ikan itu berkata “nenek
moyang kami diciptakan untuk ini, kami dikloning untuk menjadi ikan hias dan
jika kami hidup di alam bebas kami akan mati karena kami tidak diciptakan
dengan insting mencari makan sendiri dan juga kami tidak memiliki senjata untuk
menyapa para predator”. Speachlees, narus berkata apalagi??? Dalam benakku
apakah kehidupan sebegitu kejamnya? Apakah besok kita juga harus seperti
ikan-ikan itu? Dibahagiakan oleh kesenangan semu? Bahagia karena itu turun-temurun?
Mungkin sebentar lagi manusia akan seperti ikan-ikan kecil itu.
Bergegas aku buka pintu dan
menghirup udara luar rumah yang campur-baur, suara alampun bagai orchestra yang
berdengung ketelingaku masing-masing suara memegang tempo, ritme serta warnanya
sendiri-sendiri. Langkah demi langkah aku beranikan untuk menatap sang mentari,
cahaya yang merambat disekujur tubuhku tidak hanya menerangi wajahku tetapi
juga menghangatkan aliran darahku yang sempat membeku. Setelah cukup panas
akupun berteriak kepada matahari,”wahai matahari apa arti cinta bagimu? Apakah api?
Apakah planet dan bintang yang mengelilingimu? Apakah ruang hampa yang
menyelimutimu?” dan dengan suara lantang bak seorang perwira dia menyela omonganku
“stop! Jangan kau teruskan ocehan sok tau itu anak muda, kau ini sama saja
dengan manusia-manusia lainnya, sok tahu! Kalian temukan sebuah rumus, kalian
kembangkan, kalian terapkan, tapi kalian lupa bahwa satu rumus dan rumus
lainnya saling berhubungan dan itu yang membuat temanku Bumi menjadi lebih
cantik dengan make up yang kalian berikan, tapi apakah kau tahu make up itu cuma
indah dipermukaan? Bumi temanku sedang sekarat karena keteraturan didalamnya
benar-benar terkoyak karena nafsu dan pikiran yang ada dalam diri manusia!”
dengan amarah aku menjawab “aku bukan orang seperti itu, jadi jangan samakan
aku dengan yang lainnya!” seketika keadaan menjadi senyap, lirih terdengar tawa
dari matahari seakan mengejek omonganku dan raut muka bijaksana muncul diwajah
matahari sembari mengucapkan “lantas apa tujuan kamu menuntut ilmu? Apakah ilmu
yang kamu pelajari berdasarkan kearifan lokal yang nenek moyang kalian
ciptakan? Ilmu yang kamu pelajari itu berasal dari sebuah negeri huru-hara,
negeri yang mengembangkan rumus demi kejayaan mereka” dan kalimat tambahan yang
sangat menampar pikiranku “negerimu kembali terjajah dengan mengikuti budaya
mereka”. Dengan tertunduk aku berbalik dan membelakangi matahari, sedikit
langkah kecil kemudian langkah besar untuk lari dari senyuman metahari. Namun lewat
cahayanya yang lembut matahari berbisik aku dan alam yang bergandengan denganku
menganggap cinta adalah sebuah “KETERATURAN”.
Lelah berlari dan aku tak mampu
bersembunyi dari matahari dan bala pasukan cahanya yang ada dimana-mana bahkan
saat malampun cahayanya yang mengendarai bulan tetap mangikutiku. Dengan pelukan
lelah aku tertidur, tidur, tidur dan akhirnya sebuah tangan yang lembut
memelukku dan mengusir semua rasa dingin, lelah, takut dan gelisahku. Perlahan demi
perlahan aku terbuai dalam rasa damai yang dia berikan padaku, dan saat aku
menatapnya banyak pertanyaan yang keluar dari mulutku, Apakah aku sudah mati? Apakah
kamu bidadari untukku? Apakah ini surga untukku? Dan pertanyaan yang sebenarnya
apakah aku bisa masuk surga????? Perlahan aku mengerti bahwa aku belum mati dan
hanya terbuai dalam pelukan mimpi, tapi betapa indahnya mimpi ini, aku bersama
seorang wanita yang sangat mengerti aku, baik padaku, sangat menyayangiku. Berbagai
suasana kita lewati bersama indahnya musim semi, cerianya musim panas,
hangatnya musim gugur, dan bersahabatnya musim dingin tidak hanya itu badai
ditengah lautanpun terasa manis saat bersama dengannya. Semua suasana yang aku
leawati bersamanya terasa menyenangkan dan inilah yang memaksaku bertanya “mengapa
setiap bersamamu aku merasa bahagia?” senyum simpul yang menghiasai wajagnya
memberi jawaban yang tersirat “kamu merasa bahagia saat bersamaku? Tentu saja
kamu bahagia, karena aku tercipta dari tulang rusukmu” pikiranku benar-benar
melayang saat dia mengatakannya seakan aku terbuai mimpi dalam mimpiku. Tiba-tiba
“DUG!”, jantungku berhenti berdetak, darah-darahku membeku, nafasku tersumbat
dan aku tak lagi dapat merasakan harumnya aroma tubuhmu sebelum aku bertanya
tentang apakah yang dia maknai sebagai cinta, apakah itu aku? Apakah semua perkataannya
itu berarti akulah “cinta” dalam benakknya apakah semua rasa bahagia yang aku
rasakan adalah rasa cinta yang dia berikan kepadaku? Dan di detik itu juga aku
yakin cinta dalam diriku adalah kamu, namun sudah tidak ada waktu lagi mulutku
tidak mampu mengucapkan kata itu padanya, tanganku juga tak mampu membentuk
tanda cinta untuknya….. matakupun terpajam dan tak mampu memandangnya lagi aku
hanya bisa berkata dalam batinku “inilah cintaku”
Tapi……
Sepasang tangan yang hangat menyentuh
kedua pipiku, dan berkata “sudah sadar pangeran pemalasku?” Dan akupun membuka
mata denga beratnya, tak ada kata yang terucap hanya wajah yang bingung dan tak
berdaya penuh tanya, sebuah kata keluar dari mulutnya “bingung?” sebuah
anggukan kepala dariku menggantikan sebuah kata yang bermakan YA, seakan
obrolan yang sangat akrab terjadi diantara kita, kini sebuah kalimat keluar
dari mulutnya berbarengan dengan senyum yang manis “kamu sudah mati!” sontak
kata itu mengagetkaku dan hampir membuat jantungku berhenti, tunggu sebentar aku
mulai bisa berpekir kembali “jika aku mati maka jantungku tak mungkin berhenti
berdetak untuk kesekian kalinya” lagi-lagi sepertinya dia mampu membaca
pikiranku dan menjawabnya sembari memelukku “ tentu saja jika jantungmu masih
berdetak, berarti kamu masih hidup” dan pelukan hangatnya seakan memberi sebuah
kekuatan untukku. Lanjut sebuah kata yang dia bisikan di telingaku “sayangku,
sudah 3hari kamu pingsan”, seiring kata “sayangku” yang aku dengar matakupun
semakin jernih dan mampu melihat siapa sebenarnya yg ada didepanku dan saat dia
menatapku dengan mata yang berair dan sepertinya sangat bahagia melihatku
membuka mata kembali. Tanpa pikir panjang aku kerahkan semua tenagaku untuk
mengucapkan sebuah kalimat kamulah “MIMPIKU”. J
Ocehan ini hanya fiksi belaka
tapi tidak semuanya fiksi, semua adegan dibuat hanya untuk mendramatisir bahwa “dalam
mimpiku kamulah yang selalu aku cinta dan kuinginkan untuk menemani menghabiskan
waktu waktuku, dan didalam dunia nyata kamu adalah mimpiku <3 ”