Demokrasi adalah sebuah kata yang sangat familiar terdengar di telinga rakyat negeri merah putih, tepatnya setelah para cendikiawan muda berhasil memanjat 'Istana Hijau' ditengah kota metropolitan yang sekarang telah menjadi kota megapolitan yang sakit-sakitan. Kata demokrasi pun semakin menjadi raja dari semua raja karena dalam kelahirannya harus merelakan beberapa nyawa cendikiawan muda sebagai tumbal sembari meneriakan mantra 'REFORMASI'.
Sebuah kata yang diyakini akan membawa perubahan bagi semua rakyat negeri merah putih dan akan membawa sang garuda(maskot negeri merah putih) kembali terbang tinggi menumbusa cakrawala dan menantang angkuhnya 'Sang Surya' dan mencoba merontokkan '50 bintang dari 13 garis merah putih' yang kokoh menopangnya. Namun itu hanya wacana, sekali lagi wacana dan hanya menjadi wacana sampai ada 'sesaji' baru untuk perubahan tanpa logika yang akan segera tersulut karena bom waktu telah berdetak.
Namun tidak semua Demokrasi di negeri merah putih ini ambyar, ada juga yang berjalan 'mulus' yah semulus jalanan di negeri ini 'selalu ada lubang dan batu kerikil' yang artinya selalu saja ada tangan-tangan liar tak bertuan yang mengambil keuntungan di celah-celah rasa percaya masyarakatnya. Sebagai contoh demokrasi yang berjalan adalah PEMILU negeri ini yang berazaskan LUBER(Langsung Umum BEbas dan Rahasia) JURDIL(JUjur dan aDIL) dan kita akan melaksanakan dalam 5 tahun sekali. Sebagai warga negara yang baik kita bebas memilih siapa yang dianggap pantas memimpin kita dan jika dirasa tidak ada yang pantas maka golput(golongan putih) menjadi salah satu senjata andalan. Ya memang sah-sah saja seseorang memilih golput, inikan negeri Demokrasi semua orang berhak dan bebas melakukan yang mereka anggap baik asalkan bertanggung jawab. Akan tetapi apakah pemilu kita berjalan sesuai semboyannya??? jawabnya belum sampai masyarakat negeri ini benar-benar sadar akan arti TANGGUNG JAWAB :D
Demokrasi di negeri merah putih ini juga dapat kita lihat dalam kebebasan memeluk agama, negeri ini memang terkenal dengan toleransi yang tinggi antar umat beragama islam, kristen protestan, katholik, hindu, budha, kong hu cu, keenam agama ini campur aduk membaur jadi satu dalam balutan kain merah dan putih bak negeri dengan 6 menara berbeda. Tentunya tidak di semua kalangan kita dapat menemukan keindahan kebersamaan tersebut dan mungkin saya juga hanya akan merasakan indahnya kebersamaan tersebut samapai dipenghujung usia remaja saya, karena ketika seseorang menginjak usia dewasa, maka semakin banyak keinginan dan semakin tegas ideologi kita(untuk meyakini ataupun menolak sesuatu). Contoh saat masa-masa kita masih berseragam atasan putih dan berhiaskan badge identitas sekolah kita selalu berteman dan berbagi dengan siapa saja entah itu beragama putih, merah, biru, bahkan hitam yang penting solidaritas nomer satu hahaha *jadi keinget masa-masa berseragam* tapi ketika sudah berinteraksi dengan masyarakat umum barulah terlihat ada tembok pemisah diantara masing-masing kepercayaan yang dibuat oleh para orang-orang yang ilmu agamanya DANGKAL yang hanya bermodalkan kata Tuhan dan emosi yang meledak-ledak bak gunung api yang bergemuruh kemudian DUAAAAR!!! meluluhlantahkan semua yang ada di sekitarnya termasuk dirinya sendiri.
Jadi pada intinya belum ada demokrasi di negeri merah putih ini karena yang terjadi adalah demokrasi karena paksaan minoritas atau kemauan sebagian besar masyarakat, bukan dari kebenaran walaupun itu dari minoritas. Mengapa seperti itu? karena pada hakikatnya demokrasi itu adalah dimana semua orang bebas bersuara dan mengatakan sebuah kebenaran, selain itu demokrasi adalah dimana kita dapat menerima kebenaran itu meskipun itu berasal dari minoritas. Apakah anda sudah siap menerima perubahan karena demokrasi? meskipun anda akan terlempar dari comfort zone? meskipun anda akan menjadi powerless? meskipun anda tidak akan eksis lagi? semua pastilah tergantung mainstream di negeri ini *lagi-lagi mayoritas :-D *
Sebagai ocehan terakhir tulisan ini saya dedikasikan kepada para kaum minoritas dimanapun berada terutama di Indonesia yang masih tertindas oleh mayoritas dan semoga kepedulian kita terhadap kaum minoritas akan tumbuh dan berawal dari negeri kita sendiri bukan dari kasus negeri tetangga my*nm*r.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar